Sambalu Datangmi Kueta’

Penulis: Ridha Batarisompa | Foto: Salma S.

Foto: Salma S.

Foto: Salma S.

SAMBALU DATANGMI KUETA’

Penulis: Ridha Batarisompa | 24 September 2021

Ketika duduk di SD kelas enam, saat mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial (IPS), guru kelasku membawakan berbagai macam kue tradisional. Ada jalangkote, lemper, putu ayu, putu cangkir,, barongko, panada, dan ka'do boddong. Seorang teman bernama Anugrah El Ramadhan berteriak kegirangan karena kue favoritnya berada di antara kue-kue yang dihidangkan. Kue favoritnya adalah ka'do boddong. Sejak saat itu, ia dipanggil ka'do boddong oleh teman yang menjahilinya.


Ka'do boddong adalah salah satu kue khas Suku Bugis. Bentuknya menyerupai dadar gulung, namun kulitnya berwarna putih, bertekstur kasar, dan terasa manis saat isiannya sudah sampai di lidah. Ka'do boddong dalam dalam bahasa Makassar berarti makanan yang berbentuk bulat. Kaddo’ berarti makanan dan boddong berarti bulat atau bundar.


Salah satu orang tua kader kami di Sokola Pesisir, Ibu Lenteng yang akrab dipanggil Daeng Lenteng, adalah salah satu pembuat kue-kue tradisional yang masih bertahan di Mariso. Setiap hari, ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk menjajakan kue-kue buatannya dari Mariso hingga ke Jalan Seroja, lalu pulang lagi.


“Oeee sambalu, datangmi kueta…” Demikian teriakan lantang Daeng Lenteng beradu dengan deru motor, suara anak-anak yang menuju ke masjid, dan juga suara toa yang menyeru orang-orang sekitar untuk menunaikan salat magrib. “Heyyy pembeliku…” demikian kurang lebih artinya. Di tangan kanannya, ia menenteng satu kotak plastik yang berisi berbagai macam kue buatannya termasuk ka'do boddong.

Foto: Salma S.

Foto: Salma S.

Membuat Ka'do boddong


Sabtu 21 Agustus 2021 lalu, kami menemui Daeng Lenteng di rumahnya dan disambut dengan senyum sumringahnya. Di tengah-tengah perbincangan, putrinya Sartika datang menjamu kami dengan es teh dingin.


“Mamakku dulu, Nenek Puji, penjual kueji memang. Itu kueyya nabiking baru natarohmi di depan rumah, baru datangmi itu orang-orang beliki kuena,” Daeng Lenteng memulai ceritanya. Ibu Daeng Lantang atau Nenek Puji memang pembuat kue. Kue-kue buatannya itu dipajang di depan rumah dan dibeli oleh orang-orang. Nenek Puji yang mengajarkan ia membuat kue. “Waktuku lima tahun, meninggalki bapakku. Setelah itu waktuku tujuh tahun, na ajarma mamakku bikin kue.” Daeng Lenteng menceritakan bahwa kue buatan ibunya sudah sangat terkenal di Kampung Mandar, tempat tinggal mereka dulu. “Nabilang Mamakku kalau meninggalki nanti, tidak ada harta yang bisa na simpankanka, iniji saja cara bikin kue yang bisa nakasika,” Daeng Lenteng melanjutkan ceritanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan air muka yang sedih.


Menurut Daeng Lenteng, bahan untuk membuat ka'do boddong sangat sederhana. Kita hanya perlu menyiapkan tepung beras ketan, kelapa muda parut, gula, garam, dan air masak. Hal pertama yang Daeng Lenteng lakukan saat membuat ka'do boddong yakni merendam beras ketan selama empat jam. Setelah itu, beras digiling dan kelapa muda diparut oleh tetangganya yang menyewakan mesin parutan. Beras ketan yang telah menjadi tepung kemudian didiamkan beberapa saat lalu dicampur sedikit demi sedikit dengan air garam, kemudian diayak dengan ayakan untuk mendapatkan tekstur kasar pada kulit ka'do boddongnya.


Setelah menyiapkan adonan kulit, kini Daeng Lenteng menyiapkan isiannya yakni kelapa muda yang sudah diparut dan dicampur dengan gula yang takarannya sesuai perasaan beliau. Setelah bahan kulit dan isian selesai, Daeng Lenteng menyalakan kompor gas dua matanya. Ia mengambil bangku kecil dan menaikkan wajan di atas mata kompornya. Segenggam adonan kulit ia tabur di atas wajan lalu ia menutup wajannya. Beberapa detik kemudian, kulit ka'do boddong siap diisi lalu dilipat sisi kiri kanannya dan digulung.


Selain ka'do boddong, Daeng Lenteng juga membuat kue-kue lain seperti putu cangkir, putu labu, putu tongka, dan dange. Namun, ka'do boddong selalu dibuat paling akhir untuk menghindari kelapa yang jadi isiannya menjadi basi sebelum dijajakan ke pembeli. Sembari menggulung ka'do boddong, Daeng Lenteng berkata bahwa ia khawatir anak-anaknya tidak ada yang mau belajar membuat kue tradisional. Sesekali saja anaknya membantu menggulung kulit ka'do boddong. Bahkan saat kami merekam kegiatan Daeng Lenteng, seorang anaknya berseru “Oh, dikasi begitu tepungna, Mak?” Tanda bahwa ia sama sekali belum pernah memerhatikan cara membuat kue.


Foto: Salma S.

Kenangan dalam Ka'do boddong


Daeng Lenteng dan suaminya lahir dan besar di Kampung Mariso. Di tahun 1982 mereka menikah dan memiliki delapan orang anak, empat di antaranya pernah mengenyam pendidikan di Sokola Pesisir. Rumah Daeng Lenteng berada di dalam lorong dekat dari Sokola Pesisir. Dahulu, Suami Daeng Lenteng adalah nelayan yang sehari-hari mencari ikan di laut dekat Mariso. Namun, pada tahun 2013, sejak pesisir Mariso direklamasi, suami Daeng Lenteng berhenti melaut dan berganti profesi menjadi buruh pekerja lepas. Sesekali beliau memancing dan hasilnya dimakan sebagai lauk di menu makan keluarganya. Karena hal tersebut, ka'do boddong dan kue-kue buatan Daeng Lenteng lainnya lah yang menjadi penopang kehidupan keluarga mereka.


Sepekan lalu, di dalam grup percakapan alumni SD-ku, seorang teman mengabarkan bahwa Uga akan menikah. Teman yang lain bertanya, “Uga siapa?” Dan dijawab oleh si pembawa berita, “Uga yang suka makan ka'do boddong!”


Bagi Uga atau Anugrah El Ramadhan, ka'do boddong merupakan makanan kesukaannya. Namun, bagi Daeng Lenteng, ka'do boddong menjadi hal yang mengingatkan ia pada mamanya dan yang membuatnya mampu menafkahi keluarganya saat ini sebagaimana pesan mamanya.(*)