Pembangunan UMA HAKOLA HUMBA

Penulis: Aditya Dipta Anindita | Foto: Rosalia Jola

Foto: Rosalia Jola

Foto: Rosalia Jola

Foto: Rosalia Jola

Pembangunan Uma Hakola Humba

Penulis: Aditya Dipta Anindita | 8 Juli 2021

Sumber Cerita: Jefri Davidson Amakia, Rosalia Jola

“Sebentar lagi Lia akan punya rumah sendiri. Sudah harus jadi orang Sodan ini,” demikian celetukan Jawu Pote, pemuda Kampung Sodan. Ia dan sekitar 40 warga sedang bergotong-royong membangun rumah belajar Hakola Humba. Rangka rumah sudah berdiri. Dinding, lantai, dan tiang-tiangnya terbuat dari bambu yang diambil dari kebun-kebun warga. Demikian juga material rumah lainnya hingga konsumsi selama gotong-royong seperti beras dan sirih pinang, merupakah sumbangan para warga.

Sejak Maret lalu sampai dengan hari ini, sudah enam kali warga melakukan gotong-royong membangun Uma Hakola Humba (Rumah Sokola Sumba). Gotong-royong ini diadakan di sela kesibukan mereka bekerja di kebun. Mereka terdiri dari para Ama (bapak), pemuda, anak-anak, serta guru-guru Hakola Humba. Lia dan para Inya (ibu) serta remaja perempuan sibuk di dapur, menyiapkan makan untuk peserta kerja bakti. Anak-anak perempuan juga terlibat, bahkan sejak sehari sebelumnya. Mereka mencari kayu api dan mengambil air untuk kebutuhan memasak. Air-air minum sudah direbus sejak malam sebelumnya, agar tidak panas saat disajikan di hari gotong-royong.

Pembangunan rumah diawali dengan “kojayali” yang dilaksanakan pada bulan April lalu. Kojayali adalah acara membuat lubang dan menancapkan empat tiang utama rumah. Tiang rumah berasal dari kayu jati putih yang juga diambil dari kebun warga. Setelah tiang berdiri, barulah lantai dan dinding dibuat. Rencananya, pada bulan Juli ini, atap akan segera dipasang. Saat ini mereka sedang mempersiapkan atap alang. Sebagian alang dibeli, sisanya dibuat sendiri dari alang-alang yang dicari di savana.

Pembangunan Uma Hakola Humba ini adalah inisiatif warga kampung Sodan. Selama ini, para guru tinggal di salah satu rumah warga. Namun, sesuai adat di sana, ada murid-murid dari klan tertentu yang tidak bisa masuk ke rumah karena pamali yang mereka percayai. Karena itu, warga sepakat untuk membangun Uma Hakola di lokasi yang netral agar semua orang bisa datang.

Murid-murid kecil kami sangat bersemangat menanti Uma Hakola selesai dibangun. Todung Robu bahkan berceloteh, “Kalau uma sudah selesai, sa bawa sa pu tikar untuk tidur di sini sudah. Sama bawa sa pu anak ayam, pelihara di bawah rumah.”