Parang, Senjata dan Identitas Lelaki Sodan

Penulis: Fadilla M. Apristawijaya | Foto: Rosalia Jola Pedi

Foto: Rosalia Jola Pedi

Foto: Rosalia Jola Pedi

Parang, Senjata dan Identitas Lelaki Sodan

Penulis: Fadilla M. Apristawijayaa | 10 November 2021

Malam belum terlalu larut di Kampung Sodan, Sumba Barat, ketika seorang anak lelaki menawari kami sebuah nanas ranum. Dengan mantapnya anak lelaki tersebut mencabut parangnya. Dengan cekatan namun penuh kehati-hatian, ia kupas nanas dengan parangnya lalu ia sayat mata nanas hingga bersih dan siap kami santap bersama. Malam sebelumnya, dengan parang yang sama, ia tebas leher ayam dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil untuk kami nikmati juga bersama.


Ro’bu nama anak lelaki itu. Usianya baru 15 tahun. Bagi Ro’bu dan lelaki Sodan lainnya, parang tidak hanya senjata, tetapi juga identitas. Parang disematkan oleh keluarganya tidak hanya dengan penuh kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab. Sudah kurang lebih tiga tahun Ro’bu akrab dengan parangnya. Ketika parang sudah disematkan, maka anak lelaki sudah bisa turun tangan tidak hanya di kebun, tetapi juga di rumah dan di hutan. Dengan parang yang sama, setiap anak lelaki di Sodan siap membantu keluarganya mulai dari membersihkan kebun sampai memanen, memotong kayu bakar, juga untuk membangun rumah. Tidak jarang parang berteman tombak mereka sandingkan untuk berburu.


Setiap lelaki hanya punya satu parang. Katopo, demikian orang Sodan menyebutnya. Katopo selalu disematkan di pinggang, di antara kabala atau ikat pinggang yang ditenun oleh perempuan Sodan. Setiap pagi diasah dan setiap malam dibersihkan kembali.


Mengangkat senjata masih dilakukan oleh anak lelaki Sodan. Dengan parang mereka berjuang mempertahankan adat dan penghidupannya.