Bebenor

Penulis: Alberta Prabarini | Foto: Beatrix Gracella

ket: menggali tanah untuk mencari umbi

ket: lubang galian yang di dalamnya mungkin terdapat benor

ket: meraba lubang untuk mencari umbi benor

ket: benor yang dihasilkan

Foto: Beatrix Gracella

Bebenor

Penulis: Alberta Prabarini | 16 Desember 2021

Siang itu aku dan Grace sedang duduk santai di bawah pohon Padero. Dari kejauhan terlihat Induk Nguncang berjalan dengan dua parang di tangan kanan dan kiri. “Ake ndok bebenor. Ado kana ndok mahalow?” ujarnya. Katanya ia akan mencari benor dan mengajak seandainya kami mau ikut.


Benor adalah salah satu jenis umbi-umbian di rimba yang dicari oleh betina (perempuan) sebagai makanan pokok Orang Rimba. Kegiatan mencari benor biasa disebut bebenor atau becoga. Tak butuh waktu lama untuk menyetujui ajakan Induk Nguncang.


“Awo kiyun bae, jinye Induk Bedayung ado benyok benor kiyuna,” ujar Induk Nguncang. Dengan kaki telanjang, Induk Nguncang menyusuri hutan. Aku dan Grace berjalan persis di belakangnya. Tanah basah, daun kering, dan akar-akaran seakan menjadi lorong yang menunjukkan arah pencarian. Kadang ia mengangkat parang dan menerbas batang kecil di hadapannya supaya badan kami bisa sedikit masuk ke dalam semak.


Setelah puluhan langkah kuamati, Induk Nguncang berjalan sambil meneliti batang-batang pohon, kalau ada akar benor yang merambat maka di kemungkinan terdapat umbi benor. Aku sendiri lebih seperti anak kecil yang diajak ke pasar, hanya celingak-celinguk melihat pepohonan sambil memastikan agar tidak tertinggal. Akar rambat bentuknya sama semua, begitu juga daun yang penampilannya hampir mirip, pikirku.


Galian dengan lebar sekitar 15 cm dan kedalaman 1 meter sudah tercetak di mana-mana, kadang ada isinya kadang juga tidak. “Ee ebunnye,” (aduh kecilnya) atau “Ee guding, kamia hopi depot,” (oh kawan, kami tidak dapat) adalah ungkapan yang dilontarkan Induk Nguncang saat kami berjalan, sebagai ekspresi merendah karena menganggap benor yang didapat tidak terlalu besar. Padahal tanganku yang dari awal menjadi wadah hasil bebenor sudah penuh.


“Ee bisolah hasil nioma jedi aik benor. Hopi benyok tapi jadilah…” Artinya hasil bebenor ini walaupun tidak banyak namun bisa diolah menjadi bubur benor, makanan khas Orang Rimba. Matahari sudah mulai mencapai ufuk, ‘puang nyimpoy’ mereka menyebutnya. Kami pun kembali ke tenda dengan tangan penuh benor sambil membersihkan duri-duri lembut yang menempel pada pakaian kami.