Penulis: Fadilla Mutiarawati Apristawijaya | Foto: Salma
Penulis: Fadilla Mutiarawati Apristawijaya | 2 Mei 2026
Pada suatu pagi di SD Masehi Wee Baro, Tana Righu, Bu Tresia mengajak murid-murid bermain peran tentang kegiatan barter yang sering mereka lakukan di kampung. Berta yang sedang memfasilitasi kegiatan uji coba modul berpura-pura menjadi pembeli, sementara beberapa murid menjadi penjual.
“Saya hanya punya lima buah mente,” kata Berta. “Bisakah saya menukarnya dengan lima karet gelang?”
Pada musim panen mente, anak-anak di Tana Righu memang sering membawa mente (kacang mete) ke sekolah sebagai pengganti uang jajan. Mente itu biasanya mereka kumpulkan dari kebun milik keluarga, atau hasil memungut biji-biji yang jatuh di sekitar kampung. Bagi mereka, mente bukan sekadar hasil kebun, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari, sesuatu yang bisa dibagi, ditukar, atau diberikan kepada teman.
Seorang murid segera menjawab dengan serius, seolah sedang menjaga aturan pasar, “Tidak bisa. Harus sepuluh mente untuk sepuluh karet gelang.”
Namun, murid lain menyela dengan nada lebih santai, “Tidak apa-apa, kasih saja lima karet gelang.”
Murid pertama berpikir sebentar, lalu menyerahkan karet gelang itu sambil berkata, “Ini saya berikan lima karet gelang. Saya tambah lagi dua karena kamu baik.”
Anak-anak tertawa kecil. Bagi mereka, percakapan seperti itu sangat wajar.
Dalam modul ini, sebenarnya ada aturan yang jelas: lima biji mente dapat ditukar dengan satu permen, dan sepuluh biji mente dapat ditukar dengan sepuluh karet gelang. Sesuai dengan logika matematika, nilai harus konsisten dan pasti. Jika sepuluh mente setara dengan sepuluh karet gelang, maka lima mente tentu hanya bernilai lima karet gelang, bukan tujuh.
Namun, kehidupan di kampung tidak selalu berjalan dengan logika angka yang kaku seperti di buku pelajaran atau mesin hitung di toko swalayan di kota besar. Di pasar tradisional dan dalam keseharian masyarakat desa, pertukaran sering kali juga dipengaruhi oleh hubungan sosial, rasa saling mengenal, dan empati. Memberikan lebih bukanlah strategi seperti diskon di toko yang bertujuan menarik pembeli atau meningkatkan keuntungan. Ia lahir dari niat baik, dari keinginan untuk berbagi sedikit kebahagiaan dengan orang lain.
Percakapan sederhana yang muncul saat uji coba modul ajar di SD Masehi Wee Baro ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Di satu sisi, anak-anak belajar konsep nilai dan kesetaraan dalam matematika yang penting untuk melatih ketelitian dan logika. Namun di sisi lain, pengalaman hidup mereka di kampung mengajarkan bahwa hubungan antar manusia juga memiliki nilai yang tidak selalu bisa dihitung dengan angka. Pengalaman sosial anak-anak menunjukkan bahwa kehidupan tidak sesederhana rumus. Ada ruang bagi empati, bagi kebaikan, dan bagi keputusan yang tidak semata-mata ditentukan oleh angka. Di titik inilah pendidikan justru dapat belajar dari kehidupan masyarakat. Dan ini adalah salah satu misi dari pembuatan modul ajar yang disusun bersama guru-guru SD di Sumba Barat, agar pembelajaran di sekolah dapat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semoga pendidikan kita tidak sepenuhnya terjebak dalam cara pandang dunia industri yang serba pasti dan serba terukur, yang mungkin akan langsung menyalahkan murid yang memberikan dua karet gelang tambahan. Sebab dalam tindakan kecil itu, tersimpan pelajaran lain yang tidak kalah penting: bahwa kebaikan dan empati juga merupakan bagian dari cara manusia hidup bersama.
*Ditulis oleh Fadilla, dirangkum dari pengalaman fasilitasi Alberta