Penulis: Merta Merdiana Lestari | Foto: Merta Merdiana Lestari dan
Pengendum Tampung
Penulis: Merta Merdiana Lestari | 5 Juli 2026
“Ibu Guru, mau dengar ake cerita, hopi?” Penguwar mengajukan pertanyaan kepadaku sembari manca di sela-sela perjalanan kami menuju rombong Orang Rimba di Gemuruh. Penguwar adalah guru di rombong Pengelaworon. Dulu, ketika masih bujang, Penguwar aktif di KMB (Kelompok Makekal Bersatu) untuk mengajar anak-anak di berbagai rombong. Meskipun kini Penguwar sudah menikah, dia masih mengajar anaknya dan anak-anak lain di rombong-nya.
“Au, Bebet, ayolah cerita. Ake mau dengar.” Aku menjawab pertanyaan Penguwar sembari mengikutinya dari belakang.
“Ibu Guru tahu binatang beruk, hopi?”
“Beruk? Monyet?”
“Au, jadi beruk ini diasuh oleh manusia dari bayi sampai dia besar. Terus, manusia yang mengurus ini mau ngetes, apakah beruk yang diasuh ini masih ingat sama teman-temannya di kebun binatang atau hopi.”
“Terus, Bebet?” Aku bertanya penasaran
“Nah, tuannya ngajak beruk ini ke kebun binatang, nunjukin satu-satu temannya yang ada di kebun binatang. Pay ditunjukin satu-satu, ternyata beruk ini masih ingat. Oh, masih ingat ternyata kata tuannya.”
“Jadi beruk ini masih ingat teman-temannya di kebun binatang, ibo, Bebet? Engka tuannya mau ngetes beruk ini?”
“Au, dia cuma pengen ngetes aja. Tuannya bilang ini binatang apa? Terus beruk itu jawab, ini orang hutan. Ini apa ? Ini beruang. Pintar kamu, kata tuannya. Ibu Guru tahu, hopi, jerapah?
“Au, ake tahu, yang lehernya panjang, ibo?” Aku memastikan.
“Pintar. Kamu persis kaya beruk!” Sembari mengayunkan parang, Penguwar tertawa dan mengatakan aku sama seperti beruk yang sedang dites tuannya karena sejak awal, Penguwar berperan menjadi tuan dari beruk.
“Betuk, Bebet. Jehatnya, Diria,” aku tertawa sembari ingin rasanya memukulnya dari belakang.
Cerita yang Penguwar sampaikan padaku, hanyalah satu dari sekian banyak cerita lucu yang aku dengar dari Orang Rimba sebagai penghibur. Ada juga cerita asli mereka seperti kisah Pak Andir yang punya banyak episode. Cerita-cerita itu selalu membuat aku tertawa, juga menjadi sarana belajar bahasa ibu Orang Rimba.
Sebagai pelestari tradisi lisan, bercerita adalah salah satu cara mewariskan pengetahuan Orang Rimba. Biasanya dilakukan oleh para rerayo kepada generasi di bawahnya seperti budak ebun, serta bujang dan gadiy. Di dalam cerita yang disampaikan secara lisan dengan nada khas Orang Rimba, ada sejarah, kehidupan yang terus berkembang, dan ada upaya agar budaya tetap terjaga.
Selama “bekerja” di Bukit Duabelas, aku belajar banyak hal dari Orang Rimba. Salah satunya cara berburu bebi. Aku jadi tahu bahwa ternyata babi bisa membuat kubangan untuk mandi, bisa membuat sarang dari daun-daun yang berguguran di tanah untuk berlindung saat hujan, dan ternyata juga, berburu babi itu butuh pembagian kelompok, satu untuk menembak dan satu lagi untuk menggiring ke arah yang menembak. Saat aku mengikuti Pico dan Bepak Beparit pergi berburu, aku satu kelompok dengan Pico yang bertugas menggiring babi agar berjalan ke arah Bepak Beparit. Perburuan itu membutuhkan waktu tujuh jam mengelilingi hutan, mulai dari memasuki wilayah hutan yang terbuka hingga yang tertutup, dari yang beralas daun-daun sampai tanah beralas duri. Dari kena duri sampai digigit lintah. Sungguh suatu pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan.
“Pico, kenapa ake hopi lihat ular, padahal ake selalu berpikir rawa godong-godong nioma benyok ularnya?”
“Ohhh… aulah, diria kan sedang bejelon dengan Orang Rimba. Takut ular itu sama Orang Rimba.”
“Engka bisa takut?”
“Takut dimakon, lah”
“Betuk….“ Aku terkejut.
Dari beberapa komunitas adat yang aku temui dan belajar pada mereka, ada kesamaan yang aku temukan yaitu, bercerita secara lisan (tradisi lisan/oral tradition).
Pengalaman di rimba mengingatkan aku pada komunitas adat lain yang pernah aku temui dan belajar pada mereka. Salah satunya Baduy, di mana pengetahuan juga ditransfer melalui sarana bercerita mengenai kearifan lokal. Meskipun anak-anak suku Baduy tidak mengenyam pendidikan formal, akan tetapi orang tua di sana secara langsung mengajarkan pendidikan kontekstual tentang bertani, menenun, berburu, dan menjaga kelestarian alam. Pendidikan seperti ini dibutuhkan untuk menjaga budaya, hutan, dan pengetahuan yang berlangsung secara turun-temurun.
Seperti yang dilakukan Pico beberapa waktu lalu, saat mengajar budak-budak ebun yang sudah mengenal huruf. Mereka saling berbincang dan menerangkan manfaat akar dan daun. Untuk menghilangkan kebosanan saat kami sedang belajar literasi dasar, kami berlomba mencari tanaman obat. Yang paling banyak menemukan tanaman itu, menjadi pemenangnya.
“Nioma daun buat obat apo?” Pico menunjuk daun obat-obatan yang didapatkan anak-anak.
“Nioma daun satajab untuk obat demam. Nioma, daun pengendur urat untuk obat sakit tulang.” Dengan semangat, Begerak, salah satu murid yang sudah di tahap literasi terapan, menjelaskan daun hasil pencariannya di sekitar hutan tempat kita belajar. Saat Begerak menerangkan tanaman obat yang dia dapat, murid yang lain memperhatikan dan mendengarkan.
Sebagai salah satu cara pelestarian budaya dan pengetahuan yang tidak tertulis, pendidikan kontekstual seperti yang dilakukan Pico, atau bercerita sebelum tidur seperti yang sering dilakukan oleh orang tua di rimba, adalah sebuah upaya untuk melestarikan adat dan pengetahuan adat. Bahkan aku sendiri mendapatkan pengetahuan yang tidak tertulis itu saat sedang ikut berburu bersama Orang Rimba.
Kehidupan Orang Rimba berubah begitu cepat dari tahun ke tahun setelah masuknya perkebunan sawit dan adanya penetapan Taman Nasional Bukit Duabelas. Selama tinggal bersama komunitas, aku melihat bahwa kehidupan Orang Rimba terbagi ke dalam dua penghidupan, yakni di sawitan di luar rimba dan di dalam hutan rimba. Meskipun mereka harus bekerja beberondol di luar hutan untuk bertahan hidup, tetapi Orang Rimba tidak pernah lupa untuk menjaga adat dan identitas mereka. Orang Rimba tetap Orang Rimba. Mereka pemegang adat yang kuat, penjaga hutan yang penuh kasih sayang. Mengendarai motor dan memiliki telepon genggam bukan berarti mereka terjebak pada modernitas.
Duduk benyok belelapang, duduk sorang besesempit. Demikian falsafah yang aku dengar saat mengikuti pertemuan adat dengan Tumenggung, Kepala Adat, dan para rerayo Orang Rimba. Bagi Orang Rimba, berkumpul untuk memecahkan segala persoalan adalah hal yang harus dilakukan agar solusi bisa ditemukan. Dan ketika persoalan Orang Rimba tidak dibicarakan secara seksama, maka tidak akan menemukan jalan keluar. Hal inilah yang sering aku temui di komunitas. Setiap kali menghadapi persoalan dari luar (terkait orang desa, orang pemerintahan, maupun perusahaan), mereka akan berkumpul untuk membahasnya. Melalui interaksi dengan Orang Rimba (mengobrol, mendengarkan, dan melihat), aku seperti sedang mengumpulkan ingatan dan pengetahuan dari Orang Rimba.
Glosarium Bahasa Rimba
Ake : saya
Au, aulah : iya, betul, iyalah.
Beberondol : memungut rontokan buah sawit untuk dijual
Bebet : panggilan untuk lawan jenis
Bebi : babi
Bejelon : berjalan
Benyok : banyak
Bepak : bapak
Betuk : kata seru dalam bahasa rimba
Bujang : remaja laki-laki
Budak, bebudak : anak, anak-anak
Diria : panggilan untuk lawan jenis yang lebih sopan
Ebun : kecil
Engka : mengapa
Gadiy : remaja perempuan
Godong : besar
Hopi : tidak
Ibo : kan, bukan (kata tanya untuk mengukuhkan pertanyaan)
Jehat : jahat, buruk
Makon, dimakon : makan, dimakan
Manca : membabat akar liar
Nioma : ini
Rerayo : orang dewasa
Rombong : kelompok Orang Rimba