Penulis: Butet Manurung dan Alberta Prabarini | Foto: Sokola Institute
Penulis: Butet Manurung dan Alberta Prabarini | 21 Februari 2026
“Kalau dekat dengan kehidupan mereka, anak-anak lebih cepat menangkap,” ungkap Ibu Korlina Kedu dari SD Inpres Kabba, Kabupaten Sumba Barat, mengenai pembelajaran di sekolah. Hal senada diungkapkan oleh Ibu Fridiani Malo dari SD Inpres Pantai Rua. Menurutnya, budaya lokal membuat pembelajaran terasa akrab, tidak terasa asing. Ibu Korlina dan Ibu Fridiani adalah dua guru dari 92 sekolah di Kabupaten Sumba Barat yang mengikuti pelatihan dan pendampingan pembuatan modul pembelajaran relevan budaya yang difasilitasi oleh Sokola.
Selama kegiatan berlangsung, kami banyak menangkap kegelisahan para guru. Salah satunya terkait kondisi literasi. Setidaknya 60% guru dari sekolah yang mengikuti kegiatan ini menyatakan menggunakan bahasa daerah di kelas selain bahasa Indonesia. Menurut mereka, bahasa daerah berfungsi sebagai pengantar atau terjemahan agar murid lebih memahami materi yang disampaikan.
Pengalaman para guru yang tersebut mendukung keyakinan Sokola bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia membawa cara pandang, ingatan, pengetahuan, dan nilai hidup. Penggunaan bahasa ibu dan pengetahuan kontekstual dalam pendidikan di sekolah tidak hanya dapat mendekatkan proses belajar dengan pengalaman anak, tetapi juga akan merawat kebudayaan dan juga menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap lingkungan. Dari sinilah gagasan modul berbasis bahasa ibu menemukan urgensinya.
Cerita tentang luwa menjadi salah satu contoh. Ibu Silviana Nodu Madi dari SD Inpres Gayi Liku mengenang luwa hak’la, makanan lokal masyarakat Gayi Liku. Kini, makanan berbasis ubi itu semakin jarang ditemui. Konsumsi beras yang semakin masif perlahan menggeser tradisi pangan lama.
Bapak Jawu Duka dari SDN Wetena Sodana mengaitkan hilangnya makanan tersebut dengan perubahan cara bertani masyarakat. Dulu, setiap keluarga memiliki dua kebun ubi: satu untuk dipanen, satu lagi dibiarkan sebagai cadangan. Di rumah menara, terdapat loteng penuh persediaan makanan seperti ubi kering, jagung, dan padi, yang disimpan untuk musim hujan. Sistem ini bukan sekadar soal pangan, melainkan pengetahuan tentang ketahanan hidup, pengelolaan sumber daya, dan kearifan menghadapi musim.
Ketika anak-anak belajar membaca, melalui kata luwa, mereka sebenarnya sedang membuka kembali percakapan tentang kebun, tentang loteng penyimpanan, tentang musim hujan, tentang cara leluhur menjaga keberlanjutan pangan. Bahasa menjadi pintu masuk untuk memahami ekologi dan sejarah hidup komunitasnya.
Dengan mengintegrasikan bahasa ibu ke dalam pembelajaran, pembuatan modul tersebut berupaya menjembatani literasi dasar dengan pelestarian pengetahuan lokal. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga belajar mengenali dunia yang selama ini mungkin absen dari ruang kelas formal. Karena pada akhirnya, pendidikan yang paling bermakna adalah pendidikan yang tumbuh dari tanah tempat anak-anak itu berpijak.
Bahasa ibu sebagai unsur budaya masyarakat memang menjadi pendekatan utama Sokola Institute. Sejak 2003, pembelajaran kami selalu dimulai dari bahasa ibu. Bagi banyak komunitas adat seperti Orang Rimba di Jambi, bahasa ibu adalah satu-satunya bahasa yang digunakan sehari-hari. Pada awal tahun 2000-an, lebih dari 90% Orang Rimba, terutama anak-anak dan perempuan, tidak berbahasa Indonesia. Maka proses belajar dimulai dengan bahasa yang paling mereka pahami, yakni Bahasa Rimba. Dari sinilah literasi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung perlahan tumbuh.
Selain berfungsi sebagai pengantar literasi dasar, bahasa ibu mengandung nilai dan pengetahuan lokal yang membantu komunitas memahami dan merawat kehidupannya. Ketika literasi dasar sudah dikuasai, bahasa Indonesia kemudian diperkenalkan melalui tahap literasi terapan (applied literacy). Pada tahap ini, bahasa Indonesia digunakan dalam konteks nyata kehidupan sehari-hari: memahami layanan publik, berkomunikasi dengan masyarakat luas di luar komunitas, hingga mengenal hak dan kewarganegaraan. Pendekatan ini memastikan pembelajaran tetap relevan sekaligus membuka akses ke dunia yang lebih luas.
Dalam proses ini, peran anak muda sangat penting. Banyak dari mereka yang dulunya adalah murid, kini menjadi kader guru literasi di komunitasnya sendiri. Para kader mengajar menggunakan bahasa ibu sekaligus bahasa Indonesia, menjembatani pengetahuan lokal dengan pengetahuan di luar sana. Pengalaman hidup mereka membentuk cara materi disusun, pelajaran disampaikan, dan advokasi dijalankan.
Melalui pendidikan berbasis bahasa ibu dan keterlibatan kader lokal, proses belajar menjadi lebih inklusif. Anak-anak dapat belajar tanpa harus meninggalkan jati diri mereka. Sebaliknya, mereka justru membawa bahasa, cerita, dan pengetahuan lokal ke dalam ruang belajar. Seperti contohnya, pada 2023, para kader yang tergabung dalam organisasi Kelompok Makekal Bersatu (KMB) membuat modul ajar berjudul “Hutan Tano dan Penghidupon” untuk bahan ajar di Perguruan Adat Orang Rimba. Modul ini berisi cerita mengenai hutan, adat, serta atau isu-isu aktual seperti pasar hingga sawit. Pendidikan kemudian menjadi ruang pertemuan pengetahuan, tempat komunitas adat, masyarakat luas, dan negara dapat saling memahami dan saling belajar.
Pengakuan internasional melalui UNESCO International Literacy Award pada tahun 2024 semakin mendorong Sokola Institute untuk memperkuat penggunaan bahasa ibu, khususnya melalui modul-modul pembelajaran. Bersama masyarakat lokal, berbagai modul pembelajaran dikembangkan dalam bahasa ibu dan bahasa Indonesia, termasuk Bahasa Rimba di Jambi, Bahasa Sumba di Nusa Tenggara Timur, dan Bahasa Tengger di Jawa Timur.
Modul-modul pembelajaran yang dibuat tidak hanya untuk program-program pendidikan yang difasilitasi oleh Sokola, tetapi juga untuk digunakan di sekolah formal seperti yang dilakukan di Sumba Barat. Sejak pertengahan tahun lalu, guru-guru yang mengikuti pelatihan kemudian diajak diajak untuk mengembangkan materi belajar yang bersumber dari orang tua, tetua adat, dan pengetahuan lokal. Materi ini dapat digunakan di dalam kelas karena diselaraskan dengan kurikulum nasional. Di tingkat nasional, Sokola juga terlibat dalam penyusunan standar dan sistem sertifikasi bagi pendidik masyarakat adat bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yang diselesaikan pada tahun 2025 sebagai langkah penting untuk mengakui peran pendidik adat dalam sistem pendidikan yang lebih luas.
Meski begitu, tantangan masih nyata. Banyak bahasa daerah belum mendapat tempat dalam sistem pendidikan formal yang cenderung seragam. Terbatasnya infrastruktur pendidikan, kurangnya apresiasi terhadap pengajar, serta stereotipe terhadap bahasa daerah masih menjadi hambatan. Namun di tengah semua itu, bahasa ibu tetap hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat dan menjadi sumber kekuatan komunitas.
Bahasa ibu bukan peninggalan masa lalu. Ia adalah pengetahuan hidup yang membawa nilai, solusi, dan cara pandang terhadap dunia. Di Hari Bahasa Ibu Sedunia 2026, kami mengajak Kerabat Sokola untuk kembali mengingat, mengulik berbagai kosakata bahasa ibu, mencari konteksnya hari ini, dan berbangga saat menggunakannya. Dengan mendukung upaya ini, kita membuka jalan menuju masa depan yang lebih adil dan inklusif di mana setiap anak dapat belajar tanpa harus meninggalkan siapa dirinya, dan justru membawa identitas serta bahasanya untuk berkontribusi pada dunia yang lebih baik.