Teks: Linda Fitria
Foto: ANTARA FOTO
Penulis: Linda Fitria | 4 Desember 2025
Beberapa hari terakhir, kabar duka datang dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh yang dilanda bencana. Banjir bandang merusak rumah dan sawah. Longsor membawa material dari hutan yang gundul. Sungai meluap membuat desa hingga kota terendam. Apa yang kini terjadi menunjukkan bahwa alam sedang memberi isyarat, ada yang berubah dari hutan kita.
Sayangnya, perubahan pada hutan terjadi bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena ada kendali dari kepentingan besar di luar tangan dan kuasa kita. Izin pembalakan di hutan, ekspansi industri, dan aktivitas ilegal dibiarkan terjadi berulang, tahun demi tahun, tanpa restu dari kita. Rentetan inilah yang membuat hutan kita rapuh. Kerapuhan itu yang akhirnya membuat bencana ikut datang menghancurkan segalanya yang kita punya.
Di hutan Jambi, sisi lain Pulau Sumatra, kami belajar tentang pengetahuan Orang Rimba yang mempraktikkan cara hidup yang membuat hutan tetap kuat.
“Bagi Orang Rimba, hutan itu adalah rumah dan juga adat. Memang bahasanya di luar itu dibedakan. Tapi kalau di rimba, itu sama. Kalau di luar, adat itu bisa dibilang undang-undangnya (yang mengatur hutan). Sementara bagi Orang Rimba, aktivitas kesehariannya itu termasuk adat,” begitulah tutur Mimbing, kader Sokola Rimba, pada suatu waktu.
Mimbing lahir dan tumbuh di hutan Makekal Hulu, bagian barat Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Seperti yang dikatakannya, aktivitas keseharian Orang Rimba adalah adat, termasuk bagaimana mereka memanfaatkan hasil hutan dan mengelolanya agar lestari. Kami percaya bahwa prinsip hidup demikian juga berlaku di bagian lain Pulau Sumatra, bahkan di banyak tempat di Indonesia.
Masyarakat adat seperti Orang Rimba, meski jumlahnya kecil yakni 6% dari penduduk bumi, tetapi mereka menjaga 80% keanekaragaman hayati dunia. Mereka membuktikan bahwa hutan bisa tetap berdiri bila kuasanya tidak diambil alih oleh kepentingan lain.
Hutan yang terawat tidak hanya kaya dan indah. Ia adalah penangkal bencana. Ada akar yang menahan tanah, rimbun kanopi yang menjaga air, serta satwa liar yang menjaga siklus hutan agar terus berirama.
Pengetahuan dan cara bertahan hidup seperti inilah yang sebenarnya kita semua butuhkan. Ketika hutan hilang bukan karena pilihan masyarakat, melainkan karena izin demi izin dan praktik merusak yang tidak dihentikan, dampaknya dirasakan semua elemen kehidupan, tidak hanya manusia di desa–kota, bahkan satwa liar juga menjadi korban dampak kerusakan ini.
Di tengah bencana yang terjadi di Sumatra, kita perlu mendengarkan mereka yang telah hidup paling dekat dengan hutan. Pengetahuan mereka bukan masa lalu, ia adalah jalan pulang menuju hutan yang kembali menjaga manusia.
*Tulisan dibuat dalam rangka penggalangan dana untuk Banjir Sumatera pada akhir November 2025